
JAKARTA, KOMPAS.com – Ternyata 30 persen dari pendapatan warga Jakarta terserap untuk biaya transportasi. Yang lebih mencengangkan, proporsi untuk biaya transportasi tersebut bertambah besar untuk mereka golongan ekonomi menengah ke bawah.
“Data tersebut hasil survei Studi Masterplan Bodetabek oleh konsultan Jepang JICA,” kata Deputi Menko Perekonomian bidang Infrastruktur Bambang Susantono, dalam Diskusi Publik Hari Bumi dengan tema Menyelamatkan Jakarta dan Kegagalan Sistem Transportasi di Jakarta, Rabu (22/4).
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa para pengguna jalan di Jakarta, 60 persen berhenti. Dan hanya 40 persen saja mereka bergerak dalam perjalanan. “Artinya, sistem transportasi kita masih buruk. Kendaraan pribadi masih membebani jalan,” ungkap Bambang yang juga Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia.
Seharusnya, kata Bambang, Pemprov DKI mulai berpikir sebuah sistem transportasi yang aman, sesuai dengan anggaran masyarakat, nyaman, dan terintegrasi dengan transportasi lain sehingga masyarakat bisa memperkirakan waktu perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dari rumah.
Sistem tersebut, lanjutnya, harus memprioritaskan masyarakat golongan menengah ke bawah. Saat ini mereka, misalnya kaum buruh, banyak tinggal di pinggiran Jakarta seperti Tangerang, Bekasi atau Depok. Karena harga rumah di Jakarta mahal. “Ini yang mesti kita pikirkan bersama bagaimana menyediakan akses transportasi bagi mereka,” ungkap Bambang.
Menurutnya, ada sistem yang bisa segera dilakukan. “Menurut saya, segera integrasikan busway dengan kereta api commuters (Depok Ekspres, Bogor Ekspres, Bekasi Ekspres) dengan sistem satu tiket,” tambah Bambang.



















my coment