Situasi krisis global yang muram saat ini menimbulkan pengetatan dalam anggaran, termasuk berkurangnya honor para model. Pada pekan adibusana Paris, meski tampil membawakan gaun-gaun yang indah, para model harus rela dibayar setengah harga.
“Semua tempat hanya mau membayar setengah harga, baik di Milan atau New York,” keluh Anna Chyzn, model berusia 23 tahun asal Kiev, yang membawakan salah satu gaun rancangan Stephane Rolland. “Situasi ini membuat kami ragu. Selama ini kami melakukan pekerjaan ini demi uang, jadi bila krisis ekonomi seperti sekarang, mungkin saya akan pulang dan fokus pada studi saya,” kata Georgina Stojiljkovic (19) model asal Serbia.
Model-model bertubuh langsing, tinggi dan pirang, yang kebanyakan berasal dari Ukraina, Rusia, dan Balkan, itu pantas mengeluh karena mereka termasuk tulang punggung keluarga mereka di kampung halaman. Tapi apa lacur, sulitnya mendapat job di saat krisis global seperti sekarang, membuat mereka tak bisa menolak harga murah yang disodorkan para agen.
Agar tetap bertahan di masa suram ini, berbagai pengetatan dilakukan banyak pihak, termasuk dari dunia fashion. Para pengusaha ritel barang-barang mewah dilaporkan memangkas anggaran marketing dan estimatsi profit mereka tahun ini.
Selama pekan mode di Paris dan Milan pada Januari ini, untuk memangkas pengeluaran, produk barang mewah dan desainer dilaporkan hanya menggunakan sedikit model bila dibandingkan dengan tahun lalu.
Menurut Premier Model Management, London, agensi tempat supermodel Claudia Schiffer bernaung, bila selama ini para klien dikenakan tarif 4.200 dollar AS (sekitar 48 juta rupiah) per hari, kini mereka “hanya” mengenakan tarif setengahnya.
Para agensi model pun melakukan berbagai cara untuk bertahan di situasi sulit ini, termasuk menerima job-job murah, seperti pemotretan katalog. Bila beruntung model mereka bisa tampil dalam job “agak” mahal, seperti peragaan busana atau menjadi sampul majalah.
AN
Sumber : Reuters



















my coment