Bijak Memanfaatkan Personal Loan

4 05 2009
Amati baik-baik segala biaya yang akan dikenakan, agar tidak rugi belakangan.

KOMPAS.com – Seorang perempuan mengirimkan surat pembaca di harian nasional, menceritakan permasalahannya seputar permohonan KTA (Kredit Tanpa Agunan) di sebuah bank. Ia berencana merenovasi rumah, dengan perkiraan budget Rp 35 jutaan. Secara kebetulan, seorang sales dari bank menelepon dan menawarkan pinjaman hingga Rp 100-200 juta. Tak sampai dua minggu kemudian dana yang ditransfer ke rekening perempuan ini hanya Rp 16,5 juta (setelah dipotong pajak dan biaya provisi dari total dana Rp 17 juta). Karena merasa jumlah tersebut tak memadai, perempuan ini membatalkan pinjaman tersebut dengan mengembalikan dana yang sudah ditransfer tadi. Ternyata, ia justru diwajibkan membayar lebih dari nilai yang ia terima. Rupanya pihak bank mengenakan biaya penalti dan biaya-biaya lainnya.

Etiskah pihak bank mengiming-imingi pinjaman menggiurkan, tetapi ternyata hanya menyanggupi sejumlah kecil?

Menurut Muhammad Ichsan CFP, dari Prime Planner, pada prinsipnya personal loan adalah pinjaman dana yang diambil oleh individu untuk memenuhi kebutuhannya. Secara garis besar personal loan dibedakan menjadi dua, yaitu secured loan dan unsecured loan. Perbedaan mendasar antara secured dan unsecured loan adalah jaminan atau collateral. Untuk secured loan, bank umumnya mengharuskan peminjam menjaminkan asetnya kepada pihak bank. Nah, KTA termasuk dalam unsecured loan karena tidak mensyaratkan collateral.

Berapa jumlah pinjaman yang bisa diperoleh seseorang tak bisa diprediksikan. Karena tidak adanya jaminan, pihak bank biasanya akan mempertimbangkan besarnya pendapatan si calon peminjam sebagai acuan, di samping informasi kredit yang selama ini dimilikinya. Dengan demikian besarnya jumlah pinjaman mungkin saja jauh lebih kecil daripada yang diajukan nasabah atau yang ditawarkan petugas bank. Mengenai jumlah ini tentu saja pihak bank harus menginformasikannya kepada nasabah sebelum dana yang disetujui ditransfer ke rekening pemilik.

Cermati aneka biaya

Mengenai bank mana yang sebaiknya menjadi pilihan, menurut Ichsan, selama bank peminjam tersebut sehat, nama bukanlah pertimbangan utama. Meski diakuinya bank-bank luar umumnya lebih agresif menjual produk-produk KTA. Yang pasti, dari bank mana pun Anda mengajukan KTA, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya bunga, jangka waktu, dan biaya-biaya yang dibebankan bank peminjam kepada nasabah.

Untuk bunga, mengingat KTA tidak mensyaratkan jaminan, biasanya bunganya relatif lebih tinggi dibanding bunga kredit usaha pada umumnya. Strategi ini bisa dimengerti karena pihak bank pastilah tetap mengharapkan keuntungan bagi bisnis mereka. Jadi, apa pun nama bank pemberi KTA, semakin rendah bunganya tentu semakin baik untuk dipertimbangkan. Sedangkan untuk biaya provisi, umumnya pihak bank mematok angka sebesar 1-1,5% dari jumlah pinjaman. Namun agar terhindar dari masalah di kemudian hari, sebelum pinjaman diproses hendaknya nasabah benar-benar sudah mengetahui biaya apa saja yang dibebankan kepadanya, dan berapa besarnya.

Jangka waktu atau termin peminjaman akan memengaruhi besarnya bunga. Semakin panjang jangka waktunya, bunganya akan semakin kecil. Akan tetapi kalau bunga ini dikalikan dengan jangka waktu pengembalian, tentu hasilnya pun akan semakin besar. Khusus KTA, umumnya bank menawarkan bunga fix selama jangka waktu 1-3 tahun. Nah, agar terhindar dari beban bunga yang tinggi, amat disarankan untuk menentukan jangka waktu pinjaman sesingkat mungkin.

Yang juga perlu diingat, saran Ichsan, bila mengajukan KTA namun di tengah jalan ingin melunasinya, jangan terkejut bila nasabah akan dikenakan penalti ditambah biaya ini dan itu yang merupakan beban bunga yang sudah diperhitungkan selama setahun ke depan. Itulah mengapa, nasabah dituntut memahami proses KTA sebelum mengajukan pinjaman. Nasabah bahkan harus bersikap proaktif mencari informasi sejelas-jelasnya berkaitan dengan KTA yang hendak diajukan. Ini penting mengingat aturan mengenai biaya bisa saja berbeda antara bank yang satu dengan bank lainnya.

Tips agar tidak terjebak

1. Jangan mengambil pinjaman karena ingin, melainkan bila memang ada kebutuhan yang mendesak, misalnya membayar tagihan rumah sakit sementara tak ada simpanan di tabungan.

2. Jangan memanfaatkan pinjaman sebatas untuk membeli aset yang menurun harganya, seperti barang-barang elektronik. Begitu juga membeli mobil, berlibur, dan kebutuhan lain yang bersifat konsumtif.

3. Pastikan pembayaran cicilannya. Bila memang tersedia dana di tabungan, prioritaskan tabungan lebih dulu untuk melunasi tagihan tersebut sebelum mengajukan KTA.

4. Jangan “memarkir” dana pinjaman KTA ke dalam tabungan, karena bunga yang diterima dari tabungan pastilah jauh lebih kecil daripada beban bunga kredit yang harus dibayarkan. Bunga tabungan hanya berkisar 8%, sementara beban bunga kredit KTA bisa mencapai lebih dari 20% per tahun.

5. Pinjaman KTA boleh digunakan untuk menutup tagihan kartu kredit, asalkan dengan asumsi bunga KTA lebih rendah dibanding bunga yang diberlakukan bank penerbit kartu kredit. Bila Anda masih tetap menggunakan kartu kredit secara berlebihan, solusi membayar tagihan dengan meminjam KTA tetap tidak memberikan keamanan finansial untuk jangka panjang.

Jadi, segencar apa pun promosi yang dilakukan pihak bank, mereka tetap tidak dapat disalahkan. Kita sendirilah pengendali keuangan keluarga kita.


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.