Pendidikan Nasional perlu konsep

7 07 2009
Ilustrasi: Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mengaku prihatin terhadap kondisi pendidikan nasional saat ini. Pendidikan nasional tidak berkonsep, dan tak ada figur pemimpin yang bisa membawa arah pendidikan dengan jelas.


JAKARTA, KOMPAS.com – Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mengaku prihatin terhadap kondisi pendidikan nasional saat ini. Pendidikan nasional tidak berkonsep, dan tak ada figur pemimpin yang bisa membawa arah pendidikan dengan jelas.

Hal tersebut dikemukakan oleh Daoed Joesoef saat membuka diskusi ‘Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional’ yang digelar oleh Education Forum di Jakarta, Selasa (7/7). Daoed Joesoef mengatakan, setiap akan dilaksanakannya Pemilu selalu banyak tokoh muncul sambil mengumandangkan UUD ’45, khususnya terkait kalimat ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’.

“Tapi yang diucapkannya berbeda yaitu mencerdaskan bangsa, ini sudah salah kaprah, sebab muara kecerdasan bangsa itu ada pada peri kehidupannya,” ujarnya.

Akibatnya, lanjut Daoed, muncul persepsi yang mengidentik antara sekolah (schooling) dan pendidikan (education). Keduanya begitu timpang, karena fokus pemerintah lebih mengarah pada schooling.

Schooling, kata Daoed, adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada materi pelajaran yang diberikan. Untuk itu, kemudian disiapkan berbagai macam ujian di tiap jenjang dan diberi gelar sebagai hasil akhir ujian.

“Celakanya, mata pelajaran yang sudah dikuasai dengan label gelar itu disebut dengan pengetahuan dan lebih celaka lagi semua orang menganggap pengetahuan adalah kekuasaan, karena yang punya pengetahuan adalah mereka yang punya gelar,” ujar Daoed.

Tidak heran, tambah Daoed, tanpa pembagian usia, anak-anak saat ini sudah dijejali begitu banyak pelajaran. Daoed geleng kepala ketika melihat siswa SMA sudah diberikan mata pelajaran yang semestinya merupakan materi mata kuliah tingkat II di perguruan tinggi. Tujuannya, anak-anak itu diharapkan semakin cerdas, punya gelar, dan bisa berkuasa karena gelarnya.

“Mereka, anak-anak itu yang rata-rata sudah menguasai teknologi dan informasi pun disebut telah menguasai pengetahuan, padahal mereka cuma menguasai informasi, bukan pengetahuan. Mereka hanyut oleh informasi, bukan menguasai pengetahuannya,” ujar Daoed.

Sementara itu, Daoed mengatakan bahwa pendidikan adalah pelajaran yang memberikan nilai-nilai. Karena berurusan dengan nilai, pendidikan itu merupakan bagian dari kebudayaan sebagai sistem nilai yang dihayati.

“Sehingga belajar Matematika itu bukan semata sebagai subject matter, melainkan juga nilai-nilai di dalam Matematika yang harus dihayati,” ujarnya.

Alhasil, tambah Daoed, dengan prinsip mendidik dan bukan menyekolahkan, anak-anak jadi memahami nilai-nilai yang kemudian akan mendorong mereka untuk punya sikap peduli pada subyek dan lingkungan di sekitarnya.

“Maka kepedulian terhadap pendidikan itu muncul karena kita sudah memahami pendidikan itu sendiri seperti apa, sehingga saat berbicara soal mencerdaskan kehidupan bangsa kita semua sadar, bahwa mulai dari para pencetus kebijakan pendidikan, yang mendidik, sampai yang dididik pun memahami nilai-nilai itu sebagai bekal masa depannya. Bicara pendidikan itu bicara masa depan,” ujarnya.
LTF


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.