
Ambillah waktu sejenak, lalu pikirkan, apakah Anda sudah bahagia? Apakah tujuan hidup Anda sudah tercapai? Apakah tujuan hidup Anda adalah untuk bisa hidup kaya-raya, seksi, dan terkenal seperti bintang-bintang film di Hollywood?
Ketika itu semua sudah tergapai, apakah Anda akan merasa bahagia? Kebanyakan orang akan menjawab, ya. Namun, studi yang baru-baru ini dilansir oleh MSN justru menyatakan sebaliknya. Studi yang dipublikasikan oleh Journal of Research in Personality ini menemukan bahwa para sarjana yang pekerjaannya mendatangkan banyak uang, berhasil, terkenal, dan percaya diri, justru menunjukkan gejala depresi. “Mereka merasa kehidupannya lebih buruk dibanding saat mereka kuliah dan belum menjadi ‘siapa-siapa’,” terang Edward Deci, PhD, profesor di University of Rochester, di New York.
University of Rochester meneliti 147 alumninya di tahun kedua setelah kelulusan mereka. Untuk penelitian ini, dilakukan survei psikologis untuk mempelajari perasaan mereka, apakah mereka bahagia dengan hidup mereka, kepercayaan diri, kekhawatiran, gejala stres fisik, serta pengalaman emosi negatif dan positifnya. Para peneliti akan menanyakan para responden penilaian mereka antara hubungan yang mendalam dan membantu orang lain ketimbang menjadi seorang yang kaya-raya yang penampilannya sesuai impian mereka. Mereka yang dilaporkan memiliki penghasilan terbanyak, terkenal, dan percaya diri dengan penampilannya justru menunjukkan gejala kecemasan dan depresi.
Lalu, pertanyaannya, mengapa mereka yang sudah mencapai gol dan tujuan hidup mereka justru tidak bahagia? Bisa jadi jawabannya adalah karena tujuan dan gol tersebut menjauhkan seseorang dari mendapatkan sebuah tujuan hidup yang lebih bermanfaat untuk batin. “Ketika Anda terlalu fokus dengan mimpi muluk—kaya raya, terkenal, cantik/ganteng—Anda mulai menyepelekan sebuah hubungan mendalam dengan orang yang Anda kasihi. Tak lagi memerhatikan kepada diri sendiri, apalagi orang lain di sekitar yang juga membutuhkan uluran tangan Anda,” jelas Deci. Memiliki ambisi atau bekerja keras di kantor bukanlah hal yang buruk. Namun studi ini menjelaskan, adalah hal yang tak realistis untuk memimpikan bahwa keberhasilan duniawi tadi bisa membawa Anda kepada kebahagiaan.
Berikut adalah beberapa tips untuk mendapatkan kebahagiaan dalam diri sendiri:
1. Buat cara pandang yang baru tentang arti dan makna cantik. Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu pula dengan kecantikan seseorang. Kecantikan itu relatif dan fana. Mungkin Anda pernah melihat bahwa orang-orang yang cantik/ganteng tampaknya hidup dengan berbagai kemudahan. Semua orang suka dengan mereka, dan akan melakukan apa saja untuk mereka. Namun, studi yang tercatat dalam Journal of Applied Psychology menjelaskan bahwa orang yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata menghasilkan uang lebih banyak ketimbang mereka yang memiliki kecantikan luar biasa.
2. Terima diri apa adanya. Selalu membandingkan keberhasilan yang didapat sahabat, atau saudara Anda tak akan ada habisnya. Rumput tetangga memang akan selalu terlihat lebih hijau. Maka, jangan menghukum diri sendiri untuk bekerja keras, apalagi mengubah jati diri hanya untuk bisa “mengejar” kekurangan Anda. “Yang terpenting adalah untuk bisa menjadi siapa diri Anda. Bahwa Anda bisa menerima diri sendiri apa adanya. Jalani hidup Anda, jangan selalu melihat ke orang lain,” pungkas Deci. Dalam studinya, Deci menemukan bahwa mereka yang memiliki kebahagiaan adalah mereka yang memiliki hubungan kuat dan mendalam. Dalam hal ini, berarti hubungan yang menerima pasangan apa adanya, saling mendengarkan, selalu ada untuk satu sama lain. Tercatat pula mereka yang menjadi sukarelawan adalah orang yang termasuk dalam kategori bahagia.
3. Mengenali diri sendiri. Ketika Anda sibuk memikirkan bagaimana rasanya dan bagaimana caranya menjadi orang lain, Anda lupa akan siapa diri Anda. Ambillah waktu untuk mengenali diri Anda sendiri secara penuh dan mendalam. Eksplorasi segala aspek tentang diri Anda. Belajar mengenali siapa diri Anda akan membantu menetapkan fokus pada hal-hal yang penting dalam hidup. Ada orang-orang yang butuh bantuan dari orang lain untuk proses ini (psikiater, misalnya), ada juga yang bisa melakukannya sendiri. “Anda harus benar-benar niat melakukan hal ini. Tanyakan pada diri sendiri, mengenai diri, tujuan hidup, dan lainnya. Apakah Anda tahu jawaban pribadi Anda sendiri?” saran Deci. Mungkin Anda akan menemukan jawaban bahwa Anda akan lebih bahagia untuk bekerja 12 jam per hari menjadi prioritas kedua setelah menikmati waktu bersama anak dan istri.
NAD
Sumber : msn


















my coment