Bisnis Broker, Bisnis Kepercayaan

1 09 2009

Ingin menjadi usahawan dan profesional yang dipandang, Anda mesti memenuhi kriteria pokok, bisa dipercaya. Kalau aspek ini sudah digenggam erat, Anda mudah melakukan pelbagai aktivitas bisnis sebab akses terbuka lebar. Masyarakat bisnis akan ramah kepada Anda.

Salah satu bisnis yang amat menekankan aspek kepercayaan adalah broker atau agen properti. Dalam lima belas tahun terakhir, perusahaan broker berkembang pesat,terutama di Benua Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan beberapa negara Asia Timur. Di Indonesia, bisnis ini amat berkembang dalam 10 tahun terakhir. Ada agen yang membentuk perusahaan berbadan hukum, ada yang memilih berjalan seorang diri sebagai broker individu profesional, ada yang membentuk satu kelompok broker terdiri dua orang atau lebih.

Secara sederhana bisa disebutkan bahwa mereka inilah, yang berlandaskan aspek kepercayaan tadi, yang memerantarai pembeli dan penjual rumah. Mereka memudahkan warga yang hendak menjual rumah atau
kantor, dan sebaliknya memudahkan orang yang ingin mendapatkan rumah dan kantor yang diinginkannya.

Dalam perkembangan mutakhir, para broker, baik berbadan hukum maupun broker individu, berperan besar dalam penjualan apartemen berskala menengah-besar. Mereka juga memainkan peran penting dalam upaya menjual produk-produk properti, seperti pusat bisnis, rumah kantor (ruko), rumah kantor (rukan), mal, unit-unit rumah di
perumahan besar, menengah, kecil, dan sebagainya.

Biasanya, demi mengejar kinerja terbaik, para pemain properti saling berkompetisi untuk menggaet para broker atau agen properti yang mempunyai reputasi tinggi. Siapa yang memperoleh agen papan atas, yang notabene mempunyai modal trust, ia berpotensi besar meraih kinerja optimal. Sebab, para agen properti inilah yang mempunyai rentang sayap amat lebar yang bisa menjangkau konsumen. Mereka mendampingi para staf pelayanan konsumen dan calon konsumen perusahaan properti yang berkantor di lokasi proyek properti.

Dalam catatan Kompas, beberapa proyek besar apartemen di Jakarta, terutama menengah ke atas, memanfaatkan tenaga agen properti secara optimal. Perusahaan properti memperoleh manfaat karena proyeknya mendapat pasar yang cukup baik, sementara agen properti memperoleh fee yang bukan main besarnya.

Para agen properti individu juga meraih kinerja bagus. Bagi yang mempunyai jaringan luas, mampu bekerja keras, dan bisa dipercaya akan memperoleh kompensasi jasa yang besar. Beberapa agen atau broker properti ini menyatakan mereka bisa memperoleh Rp 150 juta per bulan, kalau lagi beruntung. Dan “cuma” Rp 25 juta per bulan kalau sedang apes.

Prihatin
Namun, di balik berkilaunya bisnis broker properti ini, beberapa broker senior menyatakan keprihatinannya atas ulah sejumlah broker yang kurang menekankan aspek kejujuran. Ada agen menjual 10 apartemen, tetapi hanya melapor menjual tiga apartemen. Menjual tiga apartemen tetapi menyatakan tidak menjual sama sekali. Atau berhasil memerantai penjualan tiga unit rumah hanya melaporkan satu ke induk agen properti. Ini memang soal yang memprihatinkan.

Seorang usahawan properti menyatakan dapat “memahami” kalau tingkat ketidakjujuran itu tidak mencolok. Misalnya kalau menjual 10 unit rumah tetapi hanya melaporkan tujuh unit. Namun, katanya, kalau penjualan 10 unit tetapi melaporkan hanya dua atau tiga unit ini memang keterlaluan. Dan inilah fenomena yang paling kerap terjadi.

Persoalannya, bukan semata jujur atau tidak jujur, untung besar atau tidak untung besar, berkinerja baik atau tidak. Akan tetapi, sebuah bisnis, sebuah pekerjaan, harus dilakukan dengan menekankan asas kepercayaan. Kalau aspek ini sudah ditepikan, dan kalau nilai-nilai luhur sebuah bisnis tak digenggam lagi, bisnis itu tak akan bertahan lama. Sejarah panjang para pebisnis dunia, juga pebisnis Indonesia, sudah membuktikan itu. Janganlah bercanda dengan masalah kejujuran dan kepercayaan.

Bisnis agen properti kini tengah berkembang pesat. Akan sangat bernilai kalau para pelaku di gelanggang bisnis ini menjalankan pekerjaannya dengan nurani dan hati.
Abun Sanda


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.