KENDATI lebih irit, motor dengan sistem injeksi masih kalah pamor dengan motor berkarburator. Tapi, melihat keunggulan sistem injeksi dibanding karburator, bukan berarti prospek penjualan motor jenis ini suram.
Saat ini memang tak perlu heran kalau penjualan motor injeksi di Indonesia masih kalah dengan motor karburator. Namun demikian, tren penjualan sistem injeksi terus menunjukkan peningkatan. Misalnya, penjualan Honda Supra X 125 PGM-F1. Pada tahun pertama peluncuran produk ini pada 2005 lalu, Honda hanya sanggup menjual 1.500 unit per bulan. Tapi, mulai tahun lalu, penjualan motor ini merangkak naik jadi 4.000 unit per bulan.
Yang lebih spektakuler lagi adalah Yamaha V-ixion. Motor sport injeksi keluaran Yamaha ini rata-rata penjualannya bisa mencapai 15.000 per bulan. “Ini membuktikan bahwa konsumen mulai mengerti kelebihan motor injeksi,” tutur Sigit Kumala, General Manager Marketing PT Astra Honda Motor.
Apalagi, lanjut Sigit, motor injeksi ini telah menjadi tren di berbagai negara di Asia. Bahkan, di Jepang, sekitar 70% motor sudah menggunakan sistem injeksi. Terutama setelah isu pemanasan global semakin menghangat, sehingga penggunaan kendaraan ramah lingkungan pun menjadi semakin marak.
Kini, untuk kawasan Asia sedang gencar diperkenalkan penggunaan standar emisi gas buang Euro 3. Tentu hal ini akan mengubah pabrikan motor dalam menerapkan teknologi pada produksi mereka.
Namun, menurut Sigit, di Indonesia masih banyak penghambat berkembangnya motor injeksi. Pertama, ada hambatan dari sisi pemerintahan yaitu mengenai kebijakan bea masuk komponen impor. “Bila bea masuk masih mahal, maka pabrikan juga masih segan membanjiri Indonesia dengan produk sepeda motor injeksi,” imbuhnya.
Kedua, perlu kualitas bahan bakar yang sesuai dengan motor injeksi. Motor sistem injeksi ini memerlukan bahan bakar yang 100% bebas timbal. “Kalau kedua hal itu terpenuhi, pun paling cepat baru berkembang tiga tahun atau empat tahun lagi,” katanya.
Bahkan Freddyanto Budi, Manajer Pemasaran Kawasaki Motor Indonesia, bilang motor injeksi ini baru booming di Indonesia paling cepat lima tahun ke depan. “Kuncinya pada pemahaman produk. Masyarakat kita masih banyak yang belum mengerti apa itu motor sistem injeksi,” ujar Freddyanto.
Freddyanto menengarai, respons konsumen yang adem ayem saat peluncuran motor sistem injeksi menunjukkan rendahnya pengetahuan masyarakat akan teknologi injeksi. Padahal, untuk memberi pemahaman soal teknologi ini jelas membutuhkan waktu yang tak pendek.


















my coment