TAK perlu menunggu ekonomi dunia betul-betul sembuh dari sakit, sektor properti khususnya perkantoran mulai menggeliat. Setelah sempat lesu di paruh pertama tahun ini akibat badai krisis keuangan global, di kuartal ketiga 2009, permintaan ruang kantor pelan-pelan mulai menanjak naik.Riset Jones Lang LaSalle bertajuk Jakarta Property Market Review Third Quarter 2009 yang terbit bulan ini menyebut, sejumlah perusahaan besar mulai bersiap melakukan ekspansi bisnisnya kembali. Sehingga, mereka membutuhkan ruang perkantoran untuk menjalankan aktivitas usaha.
Nah, pebisnis melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang tidak terlalu parah terkena imbas krisis global. Sehingga, mereka yakin, Negeri Seribu Pulau ini bakal tumbuh menjadi kawasan ekonomi yang prospektif dan mampu menarik investasi baru, baik dari dalam maupun luar negeri.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, arus investasi asing mulai kembali mengalir deras ke Indonesia sejak pertengahan tahun ini. “Perkantoran komersial akan menjadi sektor properti yang pertama kali bangkit dari pelemahan pasar yang terjadi akibat krisis global tahun lalu,” kata Kepala Riset Jones Lang LaSalle Anton Sitorus.
Menjadi pelopor
Buktinya, Anton mengungkapkan, permintaan ruang perkantoran di central business district (CBD) Jakarta, seperti kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Thamrin, dan Kuningan mulai meningkat. Tingkat penyerapan sepanjang triwulan ketiga 2009 naik hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya.
Sebetulnya, Kepala Divisi Office Leasing Jones Lang LaSalle Angela Wibawa bilang, aktivitas sewa menyewa ruang perkantoran sudah mulai kelihatan tanda-tanda peningkatan sejak pertengahan 2009 ini, terutama di CBD. “Ini menunjukkan antusiasme di kalangan perusahaan penyewa sudah mulai menguat seiring tanda pemulihan ekonomi,” ujar dia.
Dengan kondisi tersebut, Anton memperkirakan, sektor perkantoran komersial bakal menjadi pelopor dalam pemulihan pasar properti di Jakarta. Hal ini berbeda dengan kondisi setelah krisis ekonomi 1998 lalu. Sektor ritel dan kondominium justru menjadi pendorong pertumbuhan properti.
Saat ini, Anton menjelaskan, prospek pertumbuhan bisnis korporasi lebih dominan dampaknya bagi pertumbuhan pasar properti dalam dua tahun hingga tiga tahun ke depan. “Ini didasari analisis korelasi antara permintaan ruang kantor di Jakarta dengan pertumbuhan investasi asing yang masuk ke dalam negeri,” katanya.
Sekretaris Perusahaan PT Gapura Prima Rosihan Saad mengakui, permintaan ruang kantor terhadap proyek-proyek perkantoran mereka terus naik. “Sebagai contoh, Bellezza yang memang memiliki satu menara perkantoran, saat ini dari sisi permintaan melebihi daya tampung,” ujar dia.
Tren kenaikan permintaan juga dirasakan PT Intiland Tbk. Soalnya, banyak perusahaan yang merelokasi kantor sehingga membutuhkan tambahan ruang baru. Lalu, sejumlah perusahaan melakukan konsolidasi dengan menyatukan kantor-kantor yang terpisah ke satu gedung. Jadi, “Kenaikan lebih ke arah situ, relokasi dan konsolidasi,” kata Sekretaris Perusahaan Intiland Theresia Rustandi.
Tapi, Anton menambahkan, ada juga perusahaan yang sampai akhir tahun ini yang menahan ekspansi bisnis mereka sampai krisis benar-benar membaik. Itu sebabnya, “Untuk sektor perkantoran booming-nya akan terjadi mulai tahun depan seiring dengan membaiknya daya beli dan iklim investasi di Indonesia,” ujar Anton.


















my coment