Industri Baja Nasional Tertekan

17 11 2009
Pelat baja gulung (hot rolled coil) produksi PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten, ini siap dikirim. PT Krakatau Steel berencana menandatangani nota kesepakatan dengan perusahaan Korea Selatan, POSCO, untuk membangun industri baja terpadu di Cilegon.

Rabu, 18 November 2009 | 05:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Industri baja nasional berada dalam tekanan luar biasa. Persetujuan perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China mengancam industri dasar yang memiliki tenaga kerja langsung sekitar 250.000 orang.

FTA disepakati pemerintah semata-mata mengikuti tren kerja sama global tanpa ditopang kesiapan industri. Di sisi lain, ketidaksiapan industri menghadapi kebijakan FTA malah dituding sebagai nasionalisme sempit.

Hal itu mengemuka dalam seminar ”FTA ASEAN-China: Malapetaka Industri Nasional”, yang diselenggarakan Universitas Paramadina di Jakarta, Selasa (17/11). Seminar menghadirkan ekonom Faisal Basri, Eksekutif Komite Asosiasi Industri Baja Indonesia Purnowo Widodo, Direktur Kerja Sama Bilateral Departemen Perdagangan Harmen Sembiring, dan Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian Putu Suryawirawan.

Purnowo mengatakan, tekanan terhadap industri baja luar biasa, persetujuan perdagangan bebas dengan China menyebabkan tarif bea masuk menjadi nol persen.

China menerapkan export duty untuk bahan baku baja. China pun memberikan subsidi untuk produk fiskal. Di lain sisi, tarif dasar listrik dihantui kenaikan pada tahun 2010.

Faisal mengatakan, perdagangan ASEAN yang mencapai 458 miliar dollar AS di pasar internasional memang tidak diragukan. Namun jangan salah, industri nasional akan terseok-seok karena kebijakan FTA.

Menurut Faisal, semestinya semua industri nasional tersinggung atas pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Singapura yang menuding industri berlindung pada nasionalisme sempit, sebagaimana dikutip Kompas (16/11).

”Seharusnya hak angket DPR tidak terus hanya berkutat pada persoalan Bank Century. Hak angket seharusnya juga dipakai untuk menagih Presiden dalam mempersiapkan industri berkompetisi,” ujar Faisal.

Harmen Sembiring mengatakan, FTA dilalui dengan proses yang cukup panjang. Sejak tahun 2004, negosiasi sudah dilakukan.

”Kalau industri merasa belum siap, kapan kita bisa siap menghadapi perkembangan pasar global? Kami juga meminta dukungan kuat Depperin sehingga produk-produk yang siap bisa dimasukkan dalam proses negosiasi,” kata Harmen. (OSA)

 

Editor: jimbon





Sebelum Kesetrum, Buruan Tukarkan

17 11 2009
| Ahmad Febrian |
Selasa, 17 November 2009

chargernokiaANDA pemilik ponsel merek Nokia? Sebaiknya cermati kabar ini. Kemarin vendor asal Finlandia itu memulai  program pertukaran charger jenis tertentu.

Dalam siaran persnya Nokia Indonesia menjelaskan, saat proses rutin kendali mutu, Nokia menemukan sebuah potensi bahaya yang berkaitan dengan mutu produk buatan salah satu penyedia pihak ketiga. Penutup berbahan plastik dari charger tersebut pada situasi tertentu bisa longgar dan terlepas. Sehingga, komponen dalam charger menjadi terbuka dan menyebabkan potensi sengatan listrik ketika charger dalam keadaan tersambung pada sumber listrik.

Bagaimana mengenal charger berbahaya itu? Modelnya adalah AC-3E dan AC-3U  buatan tanggal 15 Juni 2009 dan 9 Agustus 2009, dan tipe AC-4U yang diproduksi antara 13 April 2009 dan 25 Oktober 2009. Sementara, nama produsennya menggunakan kode BYD.

Adapun kode digit ketujuh sampai kesembilan antara 925 dan 932 (AC-3E dan AC3U) serta 916 dan 943 (tipe AC-4U). Jika charger Anda masuk dalam ciri-ciri tersebut, buruan sambangi Nokia Care Centre terdekat.





Kenaikan Saham Gorengan Takkan Lama

17 11 2009

JAKARTA. Kemarin (14/5)Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal lagi menjadi 1.785 alias turun 3,79%. Meski nilai transaksi harian masih mencapai Rp 7,8 triliun, banyak saham blue chips yang harganya merosot. Sebaliknya, sebagian saham lapis dua dan tiga yang berkarakter saham gorengan melesat tinggi.

Beberapa saham malah menyentuh batas autorejection dan kena suspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) karena kenaikan harga yang terlalu cepat. Misalnya, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) serta saham dan waran Seri II PT Dayaindo Resources Intl Tbk (KARK dan KARK-W).

Rabu lalu (13/5), BEI juga menghentikan sementara saham PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI) dan PT Agis Tbk (TMPI). Selama sepekan hingga Rabu itu, harga TMPI sudah naik 163,38%. Sedangkan SULI naik 170,59% terhitung dari 27 April lalu.

Saham lain yang melejit belakangan ini adalah Truba Alam Manunggal Engineering (TRUB) dan PT Darma Henwa (DEWA). Pemicu kenaikan ini adalah kabar yang berembus di bursa bahwa kedua perusahan ini akan menggarap proyek-proyek pertambangan batubara.

Kepala Riset Batavia Prosperindo Suherman Santikno mengamati, beberapa saham kelas dua memang ikut menanjak dalam sebulan terakhir. “Ada yang memang mempunyai faktor fundamental yang bagus, tapi ada juga yang tidak jelas,” ujarnya.

Beberapa di antaranya malah jelas-jelas saham gorengan para bandar. Ia mencontohkan, kenaikan harga ENRG yang luar biasa. Harga ENRG melejit 183,63% menjadi Rp 485 dalam dua pekan. Padahal, kinerjanya buruk karena merugi 69,8% di tahun 2008.

Suherman melihat, kenaikan harga saham gorengan ini tak akan bertahan lama. “Saham-saham gorengan akan mengalami koreksi,” ujarnya.

Adapun Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing melihat minat beli saham lapis dua dan tiga memang sedang tinggi. “Ibarat kereta, blue chips itu lokomotif yang bergerak duluan, bagian tengah dan ekor yang selama ini diam akhirnya bergerak,” jelasnya.

Cuma, ia mengingatkan saham gorengan ini rentan koreksi. “Bisa drop lagi di jangka pendek,” imbuhnya.

Sholla Taufiq KONTAN





Memupuk Laba lewat Bisnis Pupuk Rumput Laut

17 11 2009
| Dupla Kartini – KONTAN |
Minggu, 15 November 2009

weekend-rumput-lautTAK hanya kotoran ternak, daun-daunan, atau sampah yang bisa diolah menjadi pupuk. PT Agarindo Bogatama, produsen tepung rumput laut di Tangerang, mengolah ampas rumput laut yang terbuang di pabrik mereka menjadi pupuk rumput laut dengan nama Plantagar.

Ide ini muncul ketika manajemen Agarido melihat tanaman di sekitar tempat pembuangan limbah ampas rumput laut tumbuh subur tanpa diberi pupuk. Maka, unit penelitian mencoba mengolah ampas rumput laut menjadi pupuk. Rumput laut yang dipakai adalah jenis Gracilaria spp. dan Gelidium spp.

Tapi, tidak mudah mendapatkan komposisi yang tepat. “Perlu waktu enam bulan hingga bisa menghasilkan Plantagar dengan komposisi yang ada saat ini,” kata Direktur Pengembangan Rumput Laut Agarindo Bogatama Soerianto Kusnowiryono.

Plantagar mulai dipasarkan tiga tahun lalu. Selain bahan baku utama ampas rumput laut yang mencapai 75%, Agarindo juga menambahkan pupuk kandang, dan bakteri pengurai unsur hara. Pupuk ini bisa digunakan untuk semua jenis tanaman.

Caranya adalah dengan mencampur Plantagar dengan tanah. Takarannya disesuaikan banyaknya bahan lain yang dicampur ke dalam tanah. Pemupukan yang hanya melibatkan media tanah cukup memakai 20% Plantagar.

Plantagar memiliki keunggulan karena ampas rumput laut mengandung unsur mikro yang dibutuhkan tanaman selain unsur makro NPK. Unsur mikro seperti mineral, magnesium, zat besi, kalsium, serta mangan, diperlukan sebagai nutrisi agar tanaman tumbuh sempurna.

Karena belum dikenal luas, produksi Agarindo masih terbatas, yaitu berkisar 200 hingga 300 ton dari kapasitas produksi yang mencapai 1.000 ton sebulan. “Tapi sejauh ini produksi kita selalu terserap pasar sepenuhnya,” ujar Soerianto.

Plantagar dikemas dalam karung plastik ukuran 20 kilogram. Setiap  karung dijual Rp 20.000-Rp 25.000 tergantung wilayah pemasaran. “Marginnya sebesar 20%,” ujar Soerianto. Selain Jakarta, pemasaran pupuk ini sudah merambah ke wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalbar, Sulawesi Selatan, hingga Sumatera Utara.

Kini, Agarindo bekerjasama dengan IPB untuk memproduksi Plantagar khusus bagi tanaman tertentu seperti padi, jagung, dan kelapa sawit.





Menjaring Laba sekaligus Mengangkat Pamor Kain Tradisi

17 11 2009
| Dupla Kartini PS |
Selasa, 17 November 2009

kain-tapis_k_dupla-kartiniKain tapis dan kain usus memang belum sepopuler batik atau ulos. Tapi, potensi bisnis kerajinan sulam asal Bandar Lampung ini tak kalah menggiurkan. Memakai merek Karya Indah Tapis, Ani Rusmadi membawa kerajinan berbahan kain tradisional ini melanglang Nusantara.
Masih ingat peristiwa 2 Oktober lalu ketika UNESCO, organisasi pendidikan ilmu pengetahuan, dan budaya PBB, menobatkan batik sebagai warisan budaya dunia? Hampir semua warga di pelosok Tanah Air mengenakan batik dengan bangga.
Namun kita semua pasti mafhum, batik bukan satu-satunya kain khas Indonesia. Ada ulos, kain tenun, dan songket. Ada pula, kain usus atau tapis dari Bandar Lam-pung. Sudah pasti, kita ingin ketenaran kain-kain ini bisa setara dengan batik.
Berbekal motivasi untuk memopulerkan kain tapis dan usus, Ani Rusmadi mencoba menciptakan kerajinan tangan berbahan kain asal daerahnya tersebut.
Pada tahun 1992, ibu muda ini mulai menjajal membuat kerajinan tangan dari kain usus dan tapis. Saat itu modal awalnya hanya Rp 500.000. Sebagian modal itu ia habiskan untuk membeli bahan-bahan kerajinan, seperti kain usus dan tapis serta aneka benang dan karton. “Sementara sisanya saya gunakan untuk sewa tempat usaha yang  sederhana,” kenang Ani.
Sejak awal, Ani melakoni bisnisnya bersama seorang rekanan yang kini menjadi suaminya. Ani bertugas membuat desain dan pola sementara sang rekan menjahit pola hingga jadi.
Ketika itu, Ani baru bisa mempekerjakan tiga karyawan. Jadi, paling banter, per hari, Ani memproduksi 50 unit untuk tiap jenis kerajinan tangan, seperti dompet, tas beragam ukuran, serta songkok atau kopiah.
Awalnya, Ani memasarkan produknya di Pasar Bambu Kuning di Bandar Lampung. Lumayan, per bulan, ia bisa meraih pendapatan kotor
Rp 1,5 juta. “Ternyata pasar menerima, banyak juga orang yang pesan langsung ke rumah untuk cinderamata,” tuturnya.
Alhasil, seiring perjalanan waktu, usahanya pun kian berkembang. Tahun 1997, ia mulai mengurus perizinan usahanya, seperti membuat akta di notaris dan nomor pokok wajib pajak (NPWP). Ani memilih nama usahanya Karya Tapis Indah.
Dia pun mulai mengikuti pameran kerajinan tangan yang diadakan Departemen Perindustrian. Dari sini, Ani mulai menemukan jalan untuk melebarkan pasar ke luar Bandar Lampung.
Kini, Ani telah memasarkan produknya hingga ke Jakarta, Medan, dan Kalimantan. Pegawainya pun telah bertambah menjadi sekitar 30 orang. Per hari, produksinya mencapai kisaran 100 unit untuk tiap jenis kerajinan.
Dalam sehari, Ani setidaknya membutuh 100 helai selendang atau kain usus dan tapis untuk membuat tas dan  songkok. Sementara untuk membuat dompet, ia membutuhkan sekitar 25 helai selendang. “Satu selendang harganya Rp 50.000,” ujarnya.
Berarti, sehari Ani menghabiskan sekitar Rp 6,25 juta untuk berbelanja bahan saja. “Kami aktif berproduksi 26 hari karena Minggu libur,” jelasnya.
Ani membanderol harga jual dompet antara Rp 20.000- Rp 70.000 per unit. Adapun, harga tas Rp 15.000-Rp 70.000 dan songkok Rp 25.000-
Rp 50.000. Harga tergantung kerumitan pengerjaannya.
Khusus untuk pesanan dari luar kota, Ani bisa meraih margin laba 50%-70%. Adapun untuk penjualan ke toko-toko cinderamata, marginnya lebih rendah sekitar 25%. Dengan harga dan margin seperti itu, kini Ani meraup omzet sekitar Rp 30 juta per bulan.
Ani bilang, kualitas menjadi kunci utamanya untuk mempertahankan pelanggan. “Kata orang-orang kelebihan produk saya adalah jahitannya lebih rapi dan hasilnya lebih halus dibanding produk serupa lainnya,” ujarnya bangga.
Oh, iya, selain menjalankan usaha kerajinan tangan dari kain usus dan tapis ini, Ani juga membuka pelatihan bagi generasi muda di daerahnya. Dia berharap, mereka pun bisa menghasilkan kerajinan seperti dirinya.





Pertamina Turunkan Lagi Harga BBM Non Subsidi

17 11 2009

JAKARTA. Terhitung 15 Mei 2009 pukul 00.00 WIB, PT Pertamina (Persero) menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang dijual di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) miliknya.

Rilis resmi Pertamina menunjukkan BUMN migas tersebut menurunkan harga BBM non subsidi terdiri dari Pertamax Plus, Pertamax, dan Bio Pertamax antara Rp 200 sampai Rp 300 per liter dibandingkan harga jual 1 Mei 2009. Sementara harga jual Pertamina Dex tidak berubah sama sekali.

Sebut saja harga Pertamax plus di UPms III yang meliputi Jakarta dan sekitarnya turun Rp 200 dari harga jual sebelumnya Rp 6.500 menjadi Rp 6.300 per liter di SPBU. Di wilayah pemasaran yang sama harga Pertamax yang sebelumnya Rp 5.900 turun menjadi Rp 5.600 per liter. Bio Pertamax juga turun dari Rp 5.900 menjadi Rp 5.600 per liter.

“Hanya Pertamina Dex saja yang tidak diturunkan harganya di UPms III, yaitu tetap Rp 79.900 per 10 liter, dan untuk kemasan 20 liter tetap dijual seharga Rp 158.400,” ujar Juru Bicara Pertamina yang baru Basuki Trikora Putra, Kamis (14/5) malam.

Harga BBM non subsidi selalu direview oleh perseroan setiap dua minggu sekali. Biasanya penurunan harga MOPS membuat Pertamina bisa menurunkan harga jual BBM Non Subsidinya.

Selain faktor harga MOPS yang turun, faktor lain yang menyebabkan Pertamina bisa menurunkan harga BBM non subsidi tersebut karena nilai tukar rupiah yang terus menguat atas dolar Amerika Serikat.

 

Gentur Putro Jati





FIF Incar Pembiayaan Baru Rp 16 Triliun

17 11 2009

JAKARTA. Sejak awal semester kedua tahun ini, perekonomi terus menunjukan perbaikan. Kondisi ini mendorong
PT Federal International Finance (FIF) lebih percaya diri menyusun proyeksi bisnis tahun depan. Perusahaan pembiayaan ini optimistis kredit baru mereka pada 2010 nanti akan mencapai Rp 16 triliun.

Nilai tersebut lebih tinggi Rp 3 triliun dari target pembiayaan baru pada 2009 yang hanya sebesar Rp 13 triliun. Menurut Direktur Pemasaran FIF Margono, penyusunan target tersebut disesuaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang naik dari 4% menjadi 5%.

Faktor lain yang mempengaruhi target FIF adalah nilai tukar rupiah yang makin stabil di bawah Rp 10.000 per dolar Amerika Serikat (AS). “Apalagi, tahun depan bisnis kami akan ditopang oleh pemulihan sektor perkebunan dan pertambangan,” ujar Margono Senin (16/11).

Dua sektor agribisnis ini dia perkirakan akan bergairah lagi setelah harga komoditas dan permintaan dari seluruh dunia terus membaik. Akhir tahun lalu, kedua sektor tersebut sempat terseret krisis dan menyebabkan bisnis pembiayaan anjlok.

Namun, dalam mewujudkan target pembiayaan di 2010, Margono menegaskan, FIF tidak akan melakukan ekspansi dengan menambah cabang. Manajemen perusahaan ini menilai, 123 kantor cabang dan 260 cabang kecil yang mereka miliki saat ini cukup sebagai ujung tombak FIF.

Soal kebutuhan modal, FIF akan memenuhinya dari pinjaman bank, atau penerbitan obligasi. “Modal kami cuma Rp 2,5 triliun,” kata Margono.

Sampai Oktober, kredit baru sepeda motor FIF mencapai 680.000 unit, atau kurang dari 160.000 unit dari target akhir tahun. Sedangkan untuk sepeda motor bekas, FIF membiayai 150.500 unit dari target 190.000 unit.

Fransiska Firlana KONTAN





BI Belum Tetapkan Perkiraan Pertumbuhan Kredit 2010

17 11 2009

JAKARTA. Bank Indonesia belum memastikan target pertumbuhan kredit tahun 2010. Pengawas perbankan di Indonesia ini masih menunggu semua data dari perbankan. Setelah semua bank melaporkan rencana kerja mereka kepada BI, baru bisa memastikan berapa target yang dipatok untuk pertumbuhan kredit tahun depan.

“Nanti akan terkait dengan rencana target pertumbuhan ekonomi, karena itu merupakan faktor terpenting melihat sisi demand,” jelas Deputir Gubernur BI Muliaman Dharmansyah Hadad di Gedung DPR RI, Selasa (17/11).
Beberapa hal yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kredit, lanjut Muliaman, antara lain proyeksi pertumbuhan ekonomi. Selain itu kredit perbankan tetap mengacu pada perbaikan situasi ekonomi global. “Faktor global akan sangat menentukan, karena akan mempengaruhi sejauh mana kredit valuta asing akan bergerak. Kredit valas ini cukup signifikan menyumbang pertumbuhan kredit,” ujarnya.

Tahun 2009 ini misalnya, pertumbuhan kredit masih sangat rendah akibat anjloknya kredit valas. Berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Bank (RAKB) 2009, BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 15%. Namun, sampai pekan kedua November, kredit baru bertumbuh 7% saja.

Ini terjad karena anjloknya kredit valas hingga 27%. “Jadi kalau perekonomian global sudah membaik, saya kira pertumbuhan kredit ke depan akan lebih enteng,” kata Muliaman.

Ruisa Khoiriyah








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.