
JAKARTA, KOMPAS.com – Industri baja nasional berada dalam tekanan luar biasa. Persetujuan perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China mengancam industri dasar yang memiliki tenaga kerja langsung sekitar 250.000 orang.
FTA disepakati pemerintah semata-mata mengikuti tren kerja sama global tanpa ditopang kesiapan industri. Di sisi lain, ketidaksiapan industri menghadapi kebijakan FTA malah dituding sebagai nasionalisme sempit.
Hal itu mengemuka dalam seminar ”FTA ASEAN-China: Malapetaka Industri Nasional”, yang diselenggarakan Universitas Paramadina di Jakarta, Selasa (17/11). Seminar menghadirkan ekonom Faisal Basri, Eksekutif Komite Asosiasi Industri Baja Indonesia Purnowo Widodo, Direktur Kerja Sama Bilateral Departemen Perdagangan Harmen Sembiring, dan Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian Putu Suryawirawan.
Purnowo mengatakan, tekanan terhadap industri baja luar biasa, persetujuan perdagangan bebas dengan China menyebabkan tarif bea masuk menjadi nol persen.
China menerapkan export duty untuk bahan baku baja. China pun memberikan subsidi untuk produk fiskal. Di lain sisi, tarif dasar listrik dihantui kenaikan pada tahun 2010.
Faisal mengatakan, perdagangan ASEAN yang mencapai 458 miliar dollar AS di pasar internasional memang tidak diragukan. Namun jangan salah, industri nasional akan terseok-seok karena kebijakan FTA.
Menurut Faisal, semestinya semua industri nasional tersinggung atas pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Singapura yang menuding industri berlindung pada nasionalisme sempit, sebagaimana dikutip Kompas (16/11).
”Seharusnya hak angket DPR tidak terus hanya berkutat pada persoalan Bank Century. Hak angket seharusnya juga dipakai untuk menagih Presiden dalam mempersiapkan industri berkompetisi,” ujar Faisal.
Harmen Sembiring mengatakan, FTA dilalui dengan proses yang cukup panjang. Sejak tahun 2004, negosiasi sudah dilakukan.
”Kalau industri merasa belum siap, kapan kita bisa siap menghadapi perkembangan pasar global? Kami juga meminta dukungan kuat Depperin sehingga produk-produk yang siap bisa dimasukkan dalam proses negosiasi,” kata Harmen. (OSA)
Editor: jimbon


















my coment