Akhir 2009, KPR CIMB Niaga Diperkirakan Rp 14,3 T

19 11 2009

JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk terus memacu sektor kredit konsumsi. Hingga akhir tahun nanti, CIMB Niaga memperkirakan kredit kepemilikan rumah (KPR) mampu mencapai Rp 14,3 triliun. Angka ini tumbuh Rp 1 triliun dari nilai akhir kuartal III yang hanya Rp 13,3 triliun.

“Outstading KPR CIMB Niaga memang flat. Namun, kami optimis hingga akhir tahun bisa tumbuh Rp 1 triliun dari kuartal ketiga,” kata James Rompas, Wakil Direktur Utama CIMB Niaga, hari ini (19/11) dalam acara pemaparan publik kuartal III.

Rompas menerangkan, kenaikan permintaan KPR setiap bulan mencapai Rp 350-400 miliar dengan mematok bunga hingga 9,9%. “Pada kuartal I dan II memang permintaan sempat menurun, tapi kuartal IV nanti saya optimis bisa naik,” imbuhnya.

Untuk menggenjot permintaan KPR, lanjut Rompas, CIMB Niaga akan terus memberikan dan meluncurkan kredit yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Sekarang, KPR Rusun (rumah susun) belum ditangani. Namun, jika ada yang menunjuk kami sebagai bank pelaksana kami akan bersedia,” tandas Rompas.

Andri Indradie





DPR Tolak Kenaikan Gaji Pejabat BI

19 11 2009

JAKARTA. Setelah menggelar rapat tertutup secara maraton sejak Senin lalu, Komisi 11 DPR-RI akhirnya menyetujui rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) dengan beberapa catatan.

Menurut Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR-RI Achsanul Qosasi, rancangan ATBI tersebut tinggal menunggu rapat pleno untuk pengesahan. “Kami sudah ketok palu, tinggal pengesahannya saja. Namun dari rancangan yang diajukan kemarin ada beberapa yang akhirnya direvisi,” jelasnya kepada wartawan di Gedung DPR-RI, Kamis (19/11).

Beberapa poin yang akhirnya direvisi tersebut adalah rencana kenaikan gaji pegawai BI. Achsanul menuturkan, DPR tidak sepakat jika dalam situasi krisis seperti ini gaji pegawai bank sentral justru naik. “Ini kan situasi krisis, harus ada sense of crisis,” ujarnya.

Akhirnya, jalan tengah pun diambil. DPR setuju kenaikan gaji bagi pegawai BI golongan manajer ke bawah. Sedangkan untuk golongan manajer ke atas, tidak ada kenaikan gaji. “Kenaikan gaji untuk tingkat manajer ke bawah besarnya disesuaikan dengan inflasi,” jelas Achsanul.

Dalam rancangan anggaran pengelolaan gaji, tunjangan, dan penghasilan lainnya di ATBI 2010, BI merencanakan pos sebesar Rp 1,957 triliun atau naik 4,26% dari ATBI 2009. Alasan BI terkait peningkatan tersebut adalah sebagai bentuk pemberian penghargaan kinerja, promosi pegawai dan rencana penerimaan pegawai baru. “Kami melihat ini masih dalam kewajaran,” ujar Pjs Gubernur BI Darmin Nasution dalam kesempatan sebelumnya.

Namun, Achsanul tak memerinci revisi berapa nilai pos anggaran untuk kenaikan gaji tersebut. “Tunggu plenonya saja, yang jelas kenaikan gaji hanya untuk pegawai golongan bawah yaitu manajer ke bawah,” ungkapnya.

Ruisa Khoiriyah





BI Rilis 10 Bank Terbesar Berdasarkan Aset

19 11 2009

JAKARTA. Kemarin (11/5), Bank Indonesia (BI) merilis daftar 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan nilai aset. Berlandaskan data Maret lalu, ada beberapa bank yang mengalami pergeseran posisi.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), misalnya, nangkring di posisi kedua menggeser posisi PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Sebelumnya, BCA selalu menduduki peringkat kedua. Namun pada akhir Maret 2009, aset BRI melonjak melebihi BCA.

Pertukaran posisi juga menimpa PT Bank Permata Tbk dan Citibank. Adapun Standart Chartered harus tersingkir dari daftar dan memberi jalan bagi Bank Internasional Indonesia (BII) masuk lagi, setelah tergusur bulan lalu.

Direktur Utama PT BRI Tbk Sofyan Basir mengatakan, naik turun aset merupakan hal biasa bagi bank. Ia mencontohkan, setiap awal tahun aset BRI turun karena ada penarikan Dana Pihak Ketiga. Tetapi di bulan Maret dana-dana itu kembali masuk.

Kepala Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, daftar BI itu bisa menjadi indikator agresivitas bank dalam menarik dana pihak ketiga dan menyalurkan kredit. ” Dari daftar itu tampak saat ini BRI yang paling agresif,” katanya.

Dyah Megasari, Arthur Gideon KONTAN





FIF Catatkan Laba Tertinggi Sepanjang Sejarah

19 11 2009

 

 

JAKARTA. Perlahan tapi pasti, PT Federal International Finance (FIF) mulai menapaki keberuntungan. Buktinya, sampai Oktober 2009, perusahaan pembiayaan ini berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 676 miliar. Perolehan melebihi pencapaian laba bersih di sepanjang tahun 2008 yang hanya mencapai Rp 612 miliar.

Presiden Direktur FIF Suhartono, mengatakan, perolehan laba bersih Rp 676 miliar itu, merupakan pencapaian laba bersih tertinggi yang pernah diraih di sepanjang sejarah berdirinya perusahaan. “Padahal, kalangan pelaku bisnis memproyeksikan tahun ini merupakan tahun yang cukup sulit bagi bisnis pembiayaan akibat dampak krisis global,” ujar Suhartono dalam siaran persnya, Rabu (18/11).

Dengan kinerja yang gemilang tersebut, FIF pun berani memasang target laba Rp 800 miliar di tahun ini, atau naik Rp 188 miliar dibandingkan perolehan laba tahun 2008. “Kami yakin target itu bisa tercapai. Kami masih mengandalkan pembiayaan baru dari kredit sepeda motor baru,” tambah Suhartono, dengan nada optimistis.

Di tahun depan, FIF juga bakal semakin giat mengepakkan bisnis pembiayaan elektroniknya. Jika di tahun ini FIF hanya memasang target Rp 900 miliar dari pembiayaan baru elektronik, di tahun depan FIF mengincar pembiayaan baru sebesar Rp 1,2 triliun sampai Rp 1,5 triliun. “Kebutuhan akan barang elektronik bakal semakin naik, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat. Kalau sudah memiliki rumah, pasti yang diperlukan adalah isian rumahnya yang berupa elektronik,” papar Suhartono.

Fransiska Firlana





Oktober 2009, Dana Nasabah di Bank Meningkat

19 11 2009

JAKARTA. Masyarakat Indonesia kini kian berani menyimpan uangnya dalam jumlah besar di bank, kendati tidak mendapat penjaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Ini yang tergambar dari data terbaru LPS tentang nilai simpanan dana nasabah perbankan.

LPS mencatat, per Oktober 2009, dana nasabah yang disimpan di perbankan naik tipis 0,36% atau senilai Rp 6,66 triliun menjadi Rp 1.877,6 triliun. Posisi September lalu, nilai duit masyarakat di bank baru sebesar Rp 1.870,94 triliun.

Pada periode tersebut, duit nasabah yang pertumbuhannya paling kencang adalah untuk rekening bersaldo antara Rp 2 miliar sampai Rp 5 miliar, yakni Rp 175,61 triliun, naik 1,59% dari September lalu yang baru mencapai Rp 172,87 triliun.

Kenaikan nilai simpanan di atas Rp 2 miliar itu menjadi indikasi semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Padahal, ya itu tadi, LPS tidak menjamin sepenuhnya duit nasabah yang tersimpan di bank. Untuk diketahui, LPS hanya mampu menjamin simpanan maksimal Rp 2 miliar.

Eloknya, jumlah rekening untuk simpanan bersaldo sebesar itu juga bertumbuh 1,5% menjadi sebanyak 55.972 rekening. Namun demikian, simpanan dengan saldo antara Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar mengalami penurunan 0,78% menjadi hanya senilai Rp 156,9 triliun.

Ruisa Khoiriyah





Eropa Akhiri Perang Pisang

19 11 2009

 

 

LONDON. Uni Eropa dan negara-negara Amerika Latin sepakat mengakhiri perang perdagangan pisang. Harian Financial Times menyatakan, Uni Eropa tengah membahas penghentian pembatasan impor pisang dan lusinan produk pertanian dari kawasan Amerika Latin.

Para pemimpin Uni Eropa akan meneken kesepakatan itu pekan ini. Amerika Serikat diramalkan juga akan meneken kesepakatan serupa.

Perang dagang antara 27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin ini telah berlangsung sejak 1993. Mereka kerap menyebut dengan perang pisang.

Kesepakatan ini juga mengacu ke bagian dari kesepakatan Organisasi Perdagangan Dunia, yang termuat di Putaran Doha. Uni Eropa akan memangkas tarif impor pisang dari Afrika, Karibia dan Pasifik.

Tarif yang kini sebesar € 176 (US$ 262,20) akan dipangkas menjadi € 114 per ton. Namun, penurunan tarif itu tidak berlangsung sekaligus, melainkan dalam dua tahap.

Syamsul Ashar Bloomberg





Ekonomi Negeri Singa Mulai Mengaum

19 11 2009

SINGAPURA. Singapura mulai bangkit dari krisis ekonomi global. Kamis (19/11), pemerintah Singapura melaporkan perekonomian negeri Merlion itu tumbuh 14,2%. Angka ini mengalami revisi sedikit dari data sebelumnya pada Oktober yang sebesar 14,9%.

Pada periode yang sama, Produk domestik bruto (GDP) Singapura juga tumbuh 0,6% dari periode tahun sebelumnya. Departemen Perdagangan dan Perindustrian menyebut, pertumbuhan GDP itu menegaskan kembali pertumbuhan ekonomi Singapura setelah di tiga kuartal tahun sebelum mengalami kontraksi.

Kalangan analis menyambut positif kemajuan ekonomi Singapura. “GDP sebesar 3% sampai 5% adalah tren perkiraan pertumbuhan. Sebab, pada 2009, GDP diperkirakan berada di level terendah. Tapi, ini bisa menjadi momentum untuk mendorong pertumbuhan GDP 2010 menjadi 6%,” kata Leong Wai Ho, Ekonom dari Barclays Capital.

David Cohen, Konsultan dari Action Economic, menilai, meski mengalami pertumbuhan, Singapura tetap harus mewaspadai inflasi. “Perkiraan inflasi adalah salah satu untuk melihat kebijakan moneter. Inflasi bisa disebabkan oleh perubahan di sektor properti dan harga pangan dunia yang naik,” kata David.

Menurut David, situasi global masih tidak menentu. Masih banyak hal yang bisa terjadi hingga April tahun depan. Karena itu, David melihat, pasar keuangan belum akan semarak. “Otorita moneter Singapura harus mengawasi inflasi lebih hati-hati. Mereka harus menjaga nilai tukar tetap stabil hingga April nanti,” tambah David.

Sebelumnya, Bank sentral Singapura menetapkan proyeksi inflasi pada 2010 berkisar 2,5-3,5%. Bank sentral juga akan hati-hati mengawasi pergerakan harga properti, meskipun tidak melihat hal yang mendasari adanya penekanan terhadap harga properti.

Bank sentral, yang memutuskan untuk mendorong apresiasi mata uang di bulan Oktober, diharapkan oleh para ekonom untuk mengencangkan kebijakan moneter hingga April 2010, setelah kinerja perdagangan negara memburuk di masa resesi.

Namun, pemerintah Singapura tetap yakin, perekonomian negaranya akan tumbuh dengan baik. “Saat ini belum ada hal yang mendasari penilaian kami atas tekanan dalam perekonomian,” kata Tee Chong Ong, Deputi Direktur Bank Sentral Singapura.

Dikky Setiawan Reuters








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.