
SINGAPURA. Singapura mulai bangkit dari krisis ekonomi global. Kamis (19/11), pemerintah Singapura melaporkan perekonomian negeri Merlion itu tumbuh 14,2%. Angka ini mengalami revisi sedikit dari data sebelumnya pada Oktober yang sebesar 14,9%.
Pada periode yang sama, Produk domestik bruto (GDP) Singapura juga tumbuh 0,6% dari periode tahun sebelumnya. Departemen Perdagangan dan Perindustrian menyebut, pertumbuhan GDP itu menegaskan kembali pertumbuhan ekonomi Singapura setelah di tiga kuartal tahun sebelum mengalami kontraksi.
Kalangan analis menyambut positif kemajuan ekonomi Singapura. “GDP sebesar 3% sampai 5% adalah tren perkiraan pertumbuhan. Sebab, pada 2009, GDP diperkirakan berada di level terendah. Tapi, ini bisa menjadi momentum untuk mendorong pertumbuhan GDP 2010 menjadi 6%,” kata Leong Wai Ho, Ekonom dari Barclays Capital.
David Cohen, Konsultan dari Action Economic, menilai, meski mengalami pertumbuhan, Singapura tetap harus mewaspadai inflasi. “Perkiraan inflasi adalah salah satu untuk melihat kebijakan moneter. Inflasi bisa disebabkan oleh perubahan di sektor properti dan harga pangan dunia yang naik,” kata David.
Menurut David, situasi global masih tidak menentu. Masih banyak hal yang bisa terjadi hingga April tahun depan. Karena itu, David melihat, pasar keuangan belum akan semarak. “Otorita moneter Singapura harus mengawasi inflasi lebih hati-hati. Mereka harus menjaga nilai tukar tetap stabil hingga April nanti,” tambah David.
Sebelumnya, Bank sentral Singapura menetapkan proyeksi inflasi pada 2010 berkisar 2,5-3,5%. Bank sentral juga akan hati-hati mengawasi pergerakan harga properti, meskipun tidak melihat hal yang mendasari adanya penekanan terhadap harga properti.
Bank sentral, yang memutuskan untuk mendorong apresiasi mata uang di bulan Oktober, diharapkan oleh para ekonom untuk mengencangkan kebijakan moneter hingga April 2010, setelah kinerja perdagangan negara memburuk di masa resesi.
Namun, pemerintah Singapura tetap yakin, perekonomian negaranya akan tumbuh dengan baik. “Saat ini belum ada hal yang mendasari penilaian kami atas tekanan dalam perekonomian,” kata Tee Chong Ong, Deputi Direktur Bank Sentral Singapura.
Dikky Setiawan Reuters


















my coment