Kamis, 7 Januari 2010 | 02:39 WIB
Jakarta, Kompas – Indonesia bakal absen di Piala Asia pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir setelah ditekuk Oman, 1-2 (1-1), di kualifikasi Grup B di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (6/1). Ini kemunduran lanjutan sepak bola nasional pascakekalahan 0-2 dari Laos di SEA Games 2009.
Tim asuhan Benny Dollo masih menyisakan satu laga lawan Australia di Brisbane, 3 Maret. Namun, apa pun hasil laga itu sudah tidak menolong mereka.
Indonesia terpuruk sebagai juru kunci Grup B dengan nilai tiga dari tiga kali seri dan dua kali kalah. Kekalahan 1-2 dari Oman adalah kekalahan pertama tim Merah Putih di kandang atau yang kedua setelah menyerah 1-2 di kandang Kuwait, November.
Pada laga itu Indonesia secara keseluruhan tak berkutik menghadapi Oman yang mendominasi permainan. Mereka kebobolan pada menit ke-32 oleh sundulan gelandang Fawzi Bashir atas bola tendangan bebas rekannya.
Menjelang turun minum, striker Boaz Solossa menyamakan 1-1 lewat aksi individu menawan, melewati dua-tiga pemain Oman, sebelum menceploskan tendangan datar ke gawang kiper klub Bolton Wanderers, Ali Al-Habsi.
Namun, buruknya pertahanan Indonesia membuat striker Ismail Al-Ajmi menjebol gawang Markus Horison setelah mengecoh bek Charis Yulianto dan Isnan Ali. Pelatih Benny Dollo menyebut kekalahan itu disebabkan terlalu banyak persoalan di timnya, terutama absennya pemain kunci dan masalah cedera.
”Pemain kelelahan akibat padatnya kompetisi,” katanya saat jumpa pers. ”Kekuatan dan daya tahan pemain kita telah berakhir di 45 menit babak pertama.” Dengan gagalnya Indonesia lolos ke Piala Asia 2011, ia mengakui, telah terjadi kemunduran timnas.
”Kalah dari Laos 0-2 (di SEA Games 2009) sudah satu kemunduran. Kita harus atasi dulu sepak bola ASEAN. Kita mau bicara apa? Kita harus introspeksi dan evaluasi diri,” tutur Benny.
Indonesia selalu tampil pada empat Piala Asia sebelumnya, pada 1996 (Uni Emirat Arab), 2000 (Lebanon), 2004 (China), dan 2007 saat Indonesia tuan rumah bersama tiga negara ASEAN.
Kalah segala-galanya
Saat menghadapi Oman, skuad polesan Benny Dollo kalah segala-galanya dari Oman, baik dalam hal penguasaan bola, agresivitas, kecepatan, maupun kerja sama tim. Tak terlihat permainan kolektif, tak ada visi permainan, dan tak ada perlawanan memadai.
Dalam bertarung untuk berebut bola, pemain Indonesia sering kalah. Pemain Oman terlihat leluasa melewati dua-tiga pemain Indonesia. Akibatnya, Indonesia terus-menerus tertekan, kesulitan keluar dari tekanan, dan hanya sesekali melancarkan serangan balik.
Pada awal babak kedua Charis Yulianto dan kawan-kawan terlihat seperti akan bermain agresif dengan pergerakan intensif. Namun, itu hanya bertahan sekitar lima menit. Permainan Merah Putih kembali layu setelah striker Ismail Al-Ajmi mencetak gol kedua Oman, memanfaatkan buruknya organisasi pertahanan Charis dan kawan-kawan.
”Secara kualitas individu, pemain-pemain Indonesia luar biasa,” kata Claude Le Roy, Pelatih Oman, seusai laga. ”Skill individu Boaz, misalnya, lompatan Bambang (Pamungkas), mobilitas Syamsul, Ponaryo, dan-lain. Soal permainan tim, saya tidak bisa berkomentar.”
Le Roy yakin, timnya bakal lolos ke Piala Asia 2011 di Qatar. Oman menjamu Kuwait pada 3 Maret.
Insiden penonton
Buruknya permainan Indonesia melawan Oman membuat penonton geregetan. Sebagian penonton telah meninggalkan tribune 10 menit terakhir. Saat injury time bahkan seorang penonton, yang memasuki lapangan, berlari-lari dengan leluasa, lalu menguasai bola, dan menembak ke arah kiper Ali Al-Habsi sebelum diamankan petugas.
Kepada wartawan, penonton yang bernama Hendri Mulyadi itu mengaku kecewa atas prestasi timnas akhir-akhir ini. (SAM)



















my coment