Terangnya Bisnis Lampions Daur Ulang Botol Bekas

13 04 2010

Jakarta – Produk-produk daur ulang masih menjadi bisnis yang menggiurkan. Selain tidak perlu bermodal besar, bisnis ini hanya memerlukan kreativitas yang tinggi.

Bob Novandy termasuk yang jeli melihat peluang ini. Pengrajin lampions daur ulang botol minuman bekas di Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini sudah menjalankan bisnis daur ulangnya sejak tahun 2003 lalu.

Mantan sespri salah satu anggota DPR ini terinspirasi mengembangkan produk daur ulang ketika banyak botol-botol plastik dibuang begitu saja di banyak tempat tanpa dimanfaatkan. Dengan kemampuannya kini ia telah memproduksi kurang lebih 150 jenis bentuk botol daur ulang dengan harga per buahnya mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 500.000.

Beberapa produk seperti lampions dengan berbagai macam ukuran, tirai-tirai rumah, miniatur kendaraan ia produksi sendiri dari tangannya yang sangat terampil. Ia mengaku, saat ini semua produksi lampions daur ulangnya diproduksi jika ada pesanan saja. Produksi lampionsnya setidaknya sudah menembus pasar Hongkong.

“Pasar yang saya incar seperti cafe, perumahan, lokasi kost dan lain-lain,” kata Bob ketika ditemui detikFinance, Kamis (18/3/2010).

Saat ini semua pesanan yang ia perolehnya umumnya masih dari mulut ke mulut, semua penjualan produknya tidak melalui gerai khusus. Bagi pemesan yang berminat umumnya langsung mendatangi rumahnya di Kebon Jeruk.

Bob mengatakan dalam sebulan ia mampu  memproduksi lampions hingga 300 unit dengan omset Rp 20 juta, ini terjadi jika  Bob sedang mendapat orderan penuh dari para pemesan.

“Bisnis ini untungnya gede, tapi ngggak rutin ordernya misalnya Coca Cola salah satu pelanggan saya, yang membeli untuk dikirim ke Hong Kong,” katanya.

Lulusan IISIP Jakarta tahun 1980 ini, mengakui untuk menghasilan produk-produk bernilai tinggi, ia hanya memerlukan bahan baku dari lapak-lapak pemulung. Harga bahan baku botol plastik bekas rata-rata Rp 4000 per kg atau sekitar 10 botol, yang bisa diolah menjadi satu produk lampions.

Bob yang mengklaim namanya dari kependekan  dari kata Bantu Orang Banyak (BOB) ini, tidak memerlukan modal besar untuk menjalankan bisnis ini. Hanya dengan bahan-bahan seperti pisau cutter, gunting dan cat, ia sudah bisa menjalankan bisnis ini.

“Sayangnya apresiasi masyarakat terhadap barang daur ulang masih menganggap remeh, mereka masih melihat bahan, bukan pada proses,” katanya.

Kemampuan mengolah sampah ini ia juga turunkan kepada anak-anak sekolah dasar, Bob sempat mengajar di beberapa sekolah dasar di wilalayah Jakarta Barat. Pria yang suka mengutak-atik kata ini punya pandangan sendiri terkait makna kata Lampions yaitu berasal dari kepanjangan kata Langkah Alternatif Mengatasi Pengangguran Ikhlas Optimis Niat Sejahtera (LAMPIONS).

(hen/qom)

About these ads

Aksi

Information




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.781 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: