
JAKARTA. Cahyo tidak pernah menyangka perjalanan wisata bersama keluarganya bakal berubah jadi bencana. Awalnya, karyawan perusahaan swasta di Jakarta itu berniat menyenangkan istri dan anaknya berlibur di Puncak, Bogor.
Apa daya, niat bersenang-senang itu tidak terpenuhi. Di tengah jalan penginapan, mobil Cahyo yang memang sudah agak uzur itu rusak lantaran harus menaiki tanjakan terjal. Kerusakannya pun parah.
Alhasil, Cahyo malah harus sibuk mengurus perbaikan mobil selama liburan itu. Biaya perbaikan mobil itu pun me-nguras habis kocek Cahyo. Padahal, ia sudah nyaris tidak memiliki duit lagi. Akhir cerita, Cahyo harus sibuk mencari utangan ke mana-mana.
Cahyo mungkin tidak perlu bingung seandainya jauh-jauh hari menyisihkan dana darurat. Seperti namanya, ini adalah dana yang disiapkan untuk keadaan darurat dan membutuhkan pengeluaran lebih banyak dari biasanya.
Keadaan darurat itu sendiri bisa bermacam-macam. Salah satunya seperti kisah Cahyo tadi. Situasi darurat juga bisa berupa sakit keras yang menimpa anggota keluarga sehingga membutuhkan perawatan ekstra. “Dana darurat juga perlu kalau-kalau terjadi bencana,” tutur Safir Senduk, seorang perencana keuangan.
Sesuai kondisi
Dalam teori perencanaan keuangan, penyisihan dana darurat merupakan prioritas utama. Bahkan, seseorang harus menyiapkan dana darurat dulu, sebelum menetapkan jatah menabung dan berinvestasi.
Saking pentingnya dana darurat, para perencana keuangan mengungkapkan dana ini baru boleh dipakai bila si pemilik dana berada dalam kondisi darurat. “Uang ini diibaratkan uang terakhir, sehingga kita harus berpikir bagaimana mempertahankan hidup,” tandas Eko Endarto, perencana keuangan Finansia Consulting.
Berapa besar dana darurat yang harus disiapkan? Porsi tiap orang bisa berbeda-beda. “Patokannya antara tiga kali sampai 12 kali jumlah pengeluaran setiap bulan,” terang Safir.
Tentu saja, Anda harus memperhatikan jumlah tanggungan keluarga sebelum menetapkan plafon dana darurat. Porsi dana darurat juga bergantung pada status Anda.
Jika Anda belum menikah, dana darurat lebih minim ketimbang orang yang sudah menikah. Para perencana keuangan bersepakat menetapkan porsi dana darurat bagi para lajang sebanyak tiga kali nilai pengeluaran bulanan si lajang.
Jika sudah menikah, porsi dana darurat itu minimal enam kali jumlah pengeluaran bulanan keluarga Anda. Porsi dana darurat kian bertambah jika Anda memiliki anak. Minimal, Anda harus menyiapkan dana darurat 12 kali jumlah pengeluaran bulanan keluarga Anda.
Jadi, penentuan porsi dana darurat ini bergantung pada nilai pengeluaran tiap bulan. Oleh sebab itu, Anda wajib menghitung total pengeluaran Anda.
Taruh kata Anda menghabiskan Rp 5 juta sebulan. Jika Anda sudah menikah dan memiliki anak, Anda minimal harus memiliki dana darurat sebanyak Rp 60 juta.
Nah, karena ini dana darurat, akses atas dana ini juga harus mudah. “Tapi, uang itu jangan diutak-atik, kecuali untuk kebutuhan mendesak,” tegas Eko.
Lantas, di mana sebaiknya menaruh dana darurat ini? Silakan menyimpan duit di lemari atau di bawah bantal. Tapi, cara penyimpanan seperti itu amat berisiko dan uang tidak optimal berkembang.
Para perencana keuangan menyarankan Anda menaruh dana darurat itu di tabungan khusus alias terpisah dari rekening yang biasa digunakan untuk bertransaksi dan investasi. Anda juga bisa menyimpan dana itu dalam bentuk giro maupun deposito.
Pilihan lain adalah menempatkannya pada instrumen reksadana pasar uang. Selain memiliki dana darurat yang mudah diakses, Anda juga bisa memperoleh imbal hasil lumayan dari instrumen investasi itu.
Eko menyarankan agar setiap orang mulai menyisihkan dana darurat sejak menerima gaji pertama. Begitu pertama kali menerima gaji, segera sisihkan minimal 20% dari gaji tersebut sebagai dana darurat.
Jika memiliki dana darurat sesuai plafon minimal, Anda bisa tetap tenang menghadapi kondisi darurat yang membutuhkan biaya. Anda tidak perlu menjual harta atau mencari utangan ke sana ke mari demi memenuhi biaya.


















my coment